Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Rumah Puisi, Rumah Aan

HomeRumah PuisiMar 1, 2007
Selamat datang, silakan masuk!

Blog EntryMar 31, '08 3:08 AM
for everyone

Blog EntryMar 30, '08 7:12 PM
for everyone
Membaca Aan, Pelukis Kata-kata

::Daeng Rusle

Kalau seorang Andrea Hirata digelari seniman kata-kata, maka saya - dengan bermaksud ikut meniru - menancapkan gelaran pada Aan sebagai pelukis kata-kata. Dia melukis dengan kuas yang lantang bercerita, diatas kanvas tema yang menarik dan membingkainya dengan kata yang diolah dari bahasa indonesia yang indah. Jadilah puisi. Lukisan puisi ini yang sering membuat kita terkesima, sebahagian besar adalah pemandangan keseharian seorang Aan yang bisa menjadi cermin buat siapa saja. Menatap lukisan kata-kata Aan, terutama buat penikmat puisi yang awam - umumnya diisitilahkan sebagai passanjak Koddala, termasuk saya he2 - maka refleksi yang terlontar adalah refleksi diri, deja vu!

Bukan bermaksud memuji, ah kenapa mesti menyembunyikan diri? - tapi puisi Aan banyak menginspirasi passanjak koddala untuk turut melukis kata juga. Di milis panyingkul, ada beberapa passanjak koddala yang kadang secara tidak senonoh ikut-ikutan berkompetisi dengan lukisan kata Aan yang terbiasa mendapat applaus kata-kata dari khalayak milis. Saya adalah termasuk passanjak koddala yang paling narsis. Sungguh tidak level, menorehkan sanjak ke dalam komunitas pencinta kegiatan menulis itu secara asupan sastra yang terbiasa mereka cerna adalah sekualitas lukisan kata Aan dan yang sekalibernya.

Tapi sanjak Aan adalah inspirasi. Demikian juga dengan Aan sendiri sebagai pribadi. Dia mendorong kita untuk terus membaca puisi, karenanya kita bisa tertular oleh sihir dahsyat kata-kata itu. Aan juga tidak suka mempersoalkan makna dari kata, walaupun kekuatan puisi Aan adalah makna dibalik kata dan alurnya. Petuah paling dahsyat dari seorang Aan muncul dari hasil kontemplasi - mungkin saduran, wallahu ‘alam, yakni ungkapannya yang mengatakan “aku menjadikan diriku sebagai puisi! setiap gerak dan laku ku adalah puisi. Karenanya puisi menjadi hidupku. (kata-kata terakhir ini hasil interpretasi saya sendiri, he2).

Kemaren, saya menerima kiriman buku puisi Aan bertajuk - Aku Hendak Pindah Rumah. Buku puisi ini adalah yang ke-2, yang perdana adalah buku sajak berjudul “Hujan Rintih-Rintih”.

Saya belum lagi menamatkannya, tapi saya sudah terburu2 membuat rangkuman. Tentu saja rangkuman yang subyektif, tapu pasti berangkat dari penilaian atas sajak-sajak Aan yang secara ikhlas dan tawadhu rajin diposting ke milis panyingkul, terutama setelah tayang di beberapa harian ibukota, Kompas misalnya.

Saya belum lagi membaca pengantar dari Hasan Aspahani, tapi 99 puisi Aan di buku ini membuat saya tidak bisa tidur malam ini. Hanya untuk menulis sebuah pengantar buat saya sendiri.

Terakhir, mudah2an pujian disini tidak over dosis. Syukur2 bisa jadi ajang promosi buku bagus ini. Tapi saya kira, kata-kata Aan yang dilukisnya ini sudah bisa menarik sendiri para peminat tanpa digombali. Mau tahu rasanya? Baca saja sendiri.


ulasan ini diambil di blog Daeng Rusle

Blog EntryMar 30, '08 6:58 PM
for everyone
Aku Hendak Pindah ke Sajak MAM
:: Erni Aladjai ::

Judul: Aku Hendak Pindah Rumah (Kumpulan Sajak)
Pengarang: M Aan Mansyur
Penerbit: Nalar Cipta Litera, Makassar
Tahun Terbit: Februari 2008
Tebal: 180 halaman
ISBN: 978-602-8003-06-3


Buku sajak ini saya beli ketika betul-betul ingin menikmati sajak. Saya membeli buku kumpulan sajak dengan judul Aku Hendak Pindah Rumah karya M. Aan Mansyur (MAM) ini di tempat istimewa – dimana tempat pengarangnya berpindah rumah yang kedua kali.

Buku ini mengingatkan saya pada buku seorang penyair dari Bali bernama Wayan Sunarta (tak ada maksud saya untuk mengekor sastra Bali) karena buku kumpulan sajak Wayan Sunarta juga berisi 99 sajak dari rentang kepenyairannya selama lima belas tahun. Wayan membagi lima belas tahun itu dalam tiga penggal. Penggal pertama dari tahun 1992-1996. Penggal kedua 1997-2001. Dan penggal terakhir 2002-2006. Sedangkan buku puisi MAM ini berisi 99 sajak (ditambah dua sajak pendek di Taman Depan Buku dan Taman Belakang buku). Semua sajak ditulis MAM dalam rentang waktu antara 2004-2007. Buku ini memiliki taman depan dan taman belakang, begitu matching dengan judulnya.

Terus terang, saya agak tidak percaya diri untuk membuat ulasan – yang justru dari tangan pengarangnya lahir pabrik kata-kata dan cerobong-cerobong sajak yang mumpuni. Sewaktu membuka buku kumpulan puisi ini, puisi pertama yang saya baca berada di taman depan buku ini berjudul Engkau dan Sajakku.

Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana/ agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan/ aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja/ agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan.

Sederhana atau bersahajakah puisi MAM? Saya tidak bisa menjawabnya. Bagi saya yang baru dua tahun memulai menikmati Puisi, maka puisi berjudul Engkau dan Sajakku adalah gabungan keterampilan kontemplasi bahasa penyair dengan penggabungan anti kemewahan kata-kata – yang kadang-kadang saking terlalu ‘agung’ orang tak lagi memahami maksud yang diusungnya.

Saya membandingkan misalnya, ketika membaca sajak-sajak Goenawan Mohamad yang terlalu musikal dan merdu itu saya jadi kesulitan membenamkan diri pada sajaknya. Maka kali ini saya memilih membenamkan diri saya pada sajak MAM berjudul Dunia Yang Lengang.

Sebuah Usaha, agar orang orang/ lebih banyak bicara dengan mata/ pemerintah membuat aturan ketat/setiap orang hanya berhak memakai/seratus tiga puluh kata per hari, pas/ jika telepon berdering, aku meletakan/ gagangya di telingaku tanpa menyebut Halo/ Di restoran aku menggunakan jari telunjuk/ memesan mi atau Coto Makassar. Aku secermat/ mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat/ tengah malam, aku telepon nomor kekasihku/di Jakarta , dengan bangga aku bilang padanya/aku menggunakan delapan puluh sembilan/kata hari ini. Sisanya kusimpan untukmu/ jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti/ ia telah menghabiskan semua jatahnya/ maka pelan-pelan aku berbisik : Aku/ mencintaimu, sebanyak lima belas kali/ setelah itu, kami hanya duduk membiarkan/ gagang telepon di telinga kami dan saling/ mendengar dengus nafas masing-masing.

Bagi saya “Dunia Yang Lengang” memerlihatkan betapa sajak itu adalah gabungan ungkapan-ungkapan cerdas dari ketrampilan seorang penyair menciptakan bahasa dan kedalaman refleksi seorang pemikir yang melihat kondisi sosial masyarakat yang lebih banyak menghamburkan kata-kata di telepon, di sms, di voice chat, dan chatting. Dimana hampir semua orang telah terperangkap berbicara dengan teknologi. Di satu sisi bisa jadi juga MAM menggugat masyarakat yang makin hemat mengeluarkan kata-kata kritik di lingkungannya, dan bisa jadi juga MAM merindukan kota yang tak hiruk-pikuk dengan pembicaraan politik dan infotaiment.

Hiruk-pikuk adalah kota dan kota adalah penjara modern – yang di dalamnya bersesak-sesak mall, hotel, bioskop, restoran, pabrik-pabrik dan orang-orang kikir. Betapa jahatnya orang-orang kota yang telah mensugesti orang desa untuk sok kota . Di kota, kita kehilangan ruang untuk mengheningkan batin. Dan sajak MAM yang berjudul Kota: Anak Desa Yang Kurang Ajar, membantu membalaskan ‘sakit hati’ saya pada hiruk-pikuk kota. Di sajak ini pula MAM belum meninggalkan tradisi puisi lirik, MAM barangkali dengan sadar bermain kata-kata dengan rima yang bagi saya sangat merdu untuk didengar. Inilah kutipan puisi yang saya katakan penyairnya sadar akan kata yang dipakainya, sajak itu berjudul “Kota: Anak Desa Yang Kurang Ajar”.

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar/tidak satu pun petuah yang dia mau dengar/ Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar/ buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar/ Kota menikah dengan orang asing lalu lahir/anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir/Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir/mall,hotel,bioskop, restoran dan lahan parkir.

Sajak-sajak MAM seakan representasi hidup kesehariannya yang bersahaja seperti penampilannya yang sederhana, dengan postur kerempeng, dan berwajah tirus. Semoga kebersahajaan MAM dan mungkin sajaknya tidak terperangkap dalam iklan yang membajiri dalam kota. Saya tak ingin sajak-sajak MAM termuat dalam kolom-kolom iklan perumahan mewah, produk kosmetik, apalagi Pilkada – seperti yang pernah kita lihat pada sajak-sajak Joko Pinurbo yang berjudul Tiada, Citacita, Rumah Cinta dan Baju Bulan pernah dimuat dalam kolom iklan sebuah perumahan mewah di sebuah surat kabar nasional. Karena bagi saya sajak tetaplah bagian dari produk kesenian yang dianggap memiliki nilai-nilai tertentu dan jauh dari aroma komersial. Karena saya takut suatu hari nanti kita lebih diwajibkan membaca iklan daripada membaca sajak.

Mari kita beramai-ramai pindah ke 99 sajak MAM.(p!)

ulasan ini dimuat dan bisa di baca di sini: www.panyingkul.com

EventMar 30, '08 6:51 AM
for everyone
Start:     Mar 31, '08 7:30p
End:     Mar 31, '08 11:00p
Location:     Toko Buku Ultimus, Bandung
pembacaan Puisi dan Diskusi kumpulan puisiku, AKu Hendak Pindah Rumah.

Blog EntryMar 28, '08 3:32 PM
for everyone
melalui kerjasama dengan berbagai komunitas kesenian dan sastera diberbagai kota di jawa, panyair aan mansyur mengunjungi dan membuka jaringan kerja sastera melalui peluncuran, pembacaan dan diskusi kedua buku "makkunrai" dan "aku hendak pindah rumah".

jadwal perjalanan aan mansyur ke 10 kota di jawa setelah makassar dan jakarta, sbb:

01. serang-banten, rumah dunia, tanggal 29 maret.
02. bandung, tb-ultimus, 31 maret.
03. yogyakarta, mp bookpoint, 1 april.
04. solo, pawon-pinilih, wisma seni tbs, 2 april.
05. semarang, fak. sastera undip, 3 april.
06. malang, prog. bhs indonesia unibraw, 5 april.
07. bojonegoro, komunitas dusun gunungsari, 6 april.
08. mojokerto-pacet, rumah pak kusen, 7 april.
09. gresik, 8 april. *)
10. surabaya, 9 april. *)

di semarang, malang, bojonegoro, mojokerto, gresik dan surabaya penyair aan mansyur ditemani oleh panyair faisal kamandobat (dari cilacap-yogyakarta) yang juga berkeliling untuk meluncurkan, membaca dan diskusi bukunya yang berjudul "alangkah tololnya patung itu". dan mereka adalah dua diantara 100 panyair pilihan "pena kencana". walaupun faisal kamandobat mengundurkan diri dari program "pena kencana" itu.

halim hd.

*) menunggu kepastian tempat.

Blog EntryMar 28, '08 12:55 PM
for everyone
DUA penulis dari Makassar akan hadir di Toko Buku Ultimus, Jalan Lengkong Besar No. 127 Bandung pada 31 Maret 2008 pukul 19.30 WIB s.d. selesai. Kedua penulis, masing-masing Aan Mansyur (kumpulan puisinya Aku Hendak Pindah Rumah) dan Lily Yulianti (kumpulan cerpennya Makkunrai). Kedua buku dari Makassar ini akan diluncurkan bersamaan dengan menghadirkan pembicara Wienny Siska, Anjar “Beraja”, Lukman A. Sya, dan moderator Yopi Setia Umbara.

Acara diisi pembacaan puisi dan cerpen dari kedua buku yang dilakukan oleh, di antaranya, Lukman A Sya, Yopi Setia Umbara, Anjar, Sangdenai, Dian Hardiana, Heri Maja Kelana, Dian Hartati, Semi Ikra Anggara, Iwan M. Ridwan, dan Evi SR. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Blog EntryMar 26, '08 2:49 AM
for everyone

Dengan hormat,

Padepokan Bumi Pakarti Aji mengundang kehadiran Anda pada
Hari, tanggal : Senin, 7 April 2008, pukul 19.00 wib
Tempat : Padepokan Bumi Pakarti Aji,
Jl Raya Sajen 106 Pacet Kabupaten Mojokerto Jawa Timur

Acara : Diskusi buku dan baca puisi bersama Aan Mansyur (Makassar) dan Faisal Kamandobat (Cilacap)

Pembicara :
-M Nur Baderi, SPd (Penanggung jawab Buletin Tsangu)
-M Aan Mansyur (penulis buku ‘Aku Hendak Pindah Rumah’)
-Faisal Kamandobat (penulis buku ‘Alangkah Tolol Patung Ini’)

Moderator:
Fahrudin Nasrulloh (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto)

Terima kasih.

RSVP:

1.Koesen LD,Telp 0321- 690064, Hp 081 80 30 88 300
Email:padepokanbumi pakartiaji@ gmail.com
http://www.bumipaka rtiaji.multiply. com
2. Halim HD 081 33 160 74 20
3. Abdul Malik 081 80 3230 472
4. Fahrudin Nasrulloh 081 578 177 671.

Sumber: Milis Art-Culture-Indonesia

Blog EntryMar 20, '08 10:32 PM
for everyone

Belakang Panggung Puisi Indonesia
oleh Ook Nugroho

BUKU 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008 pastilah tidak sempurna. Isinya niscaya tidak bakal memuaskan semua pembacanya—saya misalnya termasuk yang tidak puas. Tapi marilah kita lupakan kenyataan itu, marilah kita sebentar berandai-andai bahwa buku itu cukup memberi gambaran “utuh” mengenai kondisi kehidupan puisi kita. Dan dengan bertolak dari pengandaian optimistik itu kita akan coba mengotak-atik data para penyair yang “beruntung” puisinya terpilih, untuk mendapatkan informasi belakang panggung dari dunia puisi kita hari ini.

Penyair Pria Lebih Dominan

Ternyata jumlah penyair laki-laki mendominasi buku. Jumlahnya mencapai 79%. Sebanyak 21% penyair wanita sisanya menariknya hanya berasal dari tiga daerah, yaitu Bali 6 orang, Lampung 4 orang, dan satu dari Subang.

Mengapa terjadi kesenjangan jumlah begitu jauh tentulah menarik dikaji lebih lanjut. Bukankah tempo hari pernah ada tokoh penting sastra kita yang bersabda bahwa masa depan sastra kita ada di tangan wanita—mengapa kenyataanya begini beda?

Stok Lama dan Calon Bintang

Penyair sepuh Sapardi Djoko Damono (68) masih ada di panggung puisi kita. Ia ditemani konco lawasnya Goenawan Mohamad, dan Frans Najira. Sedangkan penyair termuda dalam buku ini adalah Merisa Hartiningsih (19), dari Bali.

Jumlah penyair usia di bawah 40—yang sering dijuluki “penyair muda”--ternyata lebih banyak ketimbang mereka yang di atas usia 40. Perbandingannya adalah 60 : 40. Dari kelompok “penyair muda” ini kita dapati sejumlah nama yang sepertinya menjanjikan di masa depan : Aan Mansyur, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Sunlie Thomas Alexander, Marhalim Zaini, Mashuri, Arif B Prasetyo, Hasan Aspahani, Zen Hae.

Sedangkan pada kelompok penyair di atas usia 40 tapi di bawah 60—penyair “setengah tua?”--dijumpai sejumlah nama penyair seleb : Afrizal Malna, Jokpin, Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Acep Zamzam Noor, Gus tf. Lalu ada sejumlah “stok lama” yang sepertinya baru beberapa tahun belakangan ini mendapat sorotan ekstra : Mardi Luhing, Sindu Putra, Wendoko, umpamanya.

Daerah Mengurung Jakarta

Selain Jakarta, ada beberapa kota dan daerah lain yang menyumbang penyair dalam jumlah cukup signifikan : Lampung dan Bali. Lampung mungkin menarik diamati sebagai bahan kaji lebih jauh karena di sini berhuni beberapa nama “penting”.

Kota-kota “kecil” lain ternyata juga memberi sumbangan berarti. Di Payakumbuh telaten berjaga Gus tf, Mataram dikawal Sindu Putra, Hasan Aspahani bikin pos di Batam, Aan Mansyur meronda di Makasar, sementara di pesisir Gresik, Mardi Luhung tinggal khusu mengolah majas. Globalisasi memang menerjang ke mana-mana.


Datang dari Kelas Menengah

Boleh dikata hampir seluruh penyair dalam buku ini berlatar-belakangkan pendidikan perguruan tinggi—atau minimal pernah kuliah—malah ada yang doktor dan profesor. Secara gamblang ini membuktikan bahwa para penyair kita adalah kelompok elit terdidik, sebuah “kasta” priyayi pilihan, yang pintar dan tidak bodoh.

Boleh jadi secara ekonomis pun mereka hidup mapan, atau minimal berkecukupan. Cerita penyair kere yang terpaksa berhutang di warung (atau melego celana) guna menyambung hidup mungkin tinggal dongeng, atau memang hanya dongeng yang sengaja dikarang-karang.

Fakta ini sekaligus menerangkan mengapa tema sosial tidak pernah “laku” dalam khazanah puisi kita. Karena kemiskinan ternyata memang “jauh” dari kehidupan penyair kita..

Beberapa Catatan Lain

Agak mencengangkan bahwa sebanyak 64% penyair—dari berbagai rentang usia-- ternyata memilih berkhidmat pada komunitas-komunitas sastra/seni. Pada mereka yang masih muda, mungkin itu semacam pilihan temporal. Tapi bagi nama-nama mapan seperti Acep Zamzam Noor, itu barangkali bukti nyata betapa berahi mereka sungguh total pada kesenian.

Profesi lain yang dijalani penyair kita adalah dosen, wartawan, pegawai, dan ada juga yang “nyambi” jadi pastor (Leo Kleden).

Cukup banyak penyair yang selain menulis puisi juga menggarap cerpen dan ternyata sukses (Gus tf), menulis esai, aktif di teater, melukis (Frans Najira), bahkan ada yang juga terjun ke dunia tarik suara & rekaman (Saras Dewi).

Sebanyak 62% beruntung sudah memiliki buku puisi tunggal. Sejumlah penyair juga pernah mendapatkan penghargaan (award) dari yang kelasnya lokal/daerah sampai nasional bahkan internasional.

Terakhir, 4 penyair dalam antologi ini (Aan Mansyur, Hasan Aspahani, Jokpin, Ook Nugroho) adalah juga “sastrawan blog”. Mereka punya kebiasaan memajang puisi mereka di blog masing-masing sebelum kemudian diuji-cobakan ke koran. Fakta bahwa puisi mereka sanggup menembus barikade sastra koran, dan beberapa kemudian terpilih dalam antologi ini, otomatis menggugurkan anggapan miring bahwa sastra blog hanyalah sastra hura-hura atau “sastra silaturahmi” belaka.

Begitulah, antologi ini dengan segala kekurangannya, ternyata memberikan sekelumit gambaran belakang panggung dari kehidupan puisi kita hari ini. Mana tahu sekelumit gambaran itu ternyata memang merupakan bayangan dari kenyataan seutuhnya..


Blog EntryMar 14, '08 7:25 PM
for everyone

Ini jadwal diskusi 'Aku Hendak Pindah Rumah'. Buku ini didiskusikan dalam bingkai inisiatif independen, Sastra dari Makassar.


Sastra dari Makassar


Senin, 17 Maret 2008

pukul 09.00 – 11.00

Bincang-bincang Menulis Kreatif
bersama M. Aan Mansyur
di SMU Neg 3 Makassar

Selasa, 18 Maret 2008

pukul 08.00 – 10.00

Bincang-bincang Sastra dari Makassar
bersama Lily Yulianti Farid & M.Aan Mansyur
di Radio Merkurius FM

pukul 10.30 – 13.00
Membaca dan Menulis Sastra, BukanTawuran!

bersama Nurhady Sirimorok, LilyYulianti Farid & M. Aan Mansyur
di Universitas Hasanuddin

pukul 14.00 – 17.00

Pencanangan Inisiatif Sastra dariMakassar dan Peluncuran Dua Buku Sastra;
Kumpulan Cerpen ‘Makkunrai’ dan Kumpulan Puisi ‘Aku Hendak Pindah Rumah’


Pembicara:
Nurhady Sirimorok (Pengamat Budaya,Komunitas Ininnawa), Basri (Redaktur Budaya Harian Fajar), Lily Yulianti Farid (penulis ‘Makkunrai) & M. Aan Mansyur (penulis ‘Aku Hendak Pindah Rumah’)


Moderator: Shinta Febriany


Pementasan Monolog ‘Makkunrai’
oleh Luna Vidya

Pembacaan Puisi
oleh Muhary Wahyu Nurba

di Graha Pena Fajar Lantai 4


pukul 19.00 – 22.00

Diskusi Buku, Pembacaan Karya Sastradan Pementasan Monolog
bersama Nurhady Sirimorok, Luna Vidya, Muhary WahyuNurba, Lily Yulianti Farid & M. Aan Mansyur
di Kafe Baca Bibliholic

Rabu, 19 Maret 2008


Pukul 10.00 – 13.00

Bincang-bincang Menulis Kreatif danDiskusi Buku
bersama Nurhady Sirimorok, LilyYulianti & M. Aan Mansyur
di Universitas Islam Makassar

pukul 14.00 – 17.00

Diskusi Buku ‘Makkunrai’ dan ‘AkuHendak Pindah Rumah’

Pembicara:
Dr. Ahyar Anwar (kritikus sastra,Dosen Sastra UNM)
Prof Dr. Hj.Rabihatun Idris, MS(Kepala Puslit Pemberdayaan Perempuan UNM)

di Universitas Negeri Makassar

pukul 20.00 – 22.00
Talkshow: Sastra dari Makassar

bersama Lily Yulianti Farid & M.Aan Mansyur
di Radio Delta 99,2 FM Makassar

Jumat, 21 Maret 2008


Pukul 19.00 - 22.00

Ngobrol Sastra, Bukan Pilkada!
pembicara: Nurhady Sirimorok, LilyYulianti Farid & M. Aan Mansyur
di Kafe D’ Green Makassar, Jl. Sungai Saddang, Makassar

Sabtu, 22 Maret 2008


Pukul 08.00 – 10.00
Talkshow: Sastra dari Makassar
bersama Lily Yulianti Farid & M.Aan Mansyur
di SP FM Makassar

Senin, 24 Maret 2008

Diskusi Dua Buku Sastra dari Makassar
'Aku Hendak Pindah Rumah' dan 'Makkunrai'
Pembicara:

Nurhady Sirimorok (Pengamat Budaya, Komunitas Ininnawa)
Nur Zen Hae (Penulis, Ketua Komite Sastra DKJ)
Maria Hartaningsih (Wartawati Senior Harian Kompas)

Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki Jakarta


28 Maret - 10 April 2008
Sastra dari Makassar
Serang, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Solo, Gresik, Mojokerto, Bojonegoro, Surabaya


Anda semua diundang untuk hadir di acara-acara tersebut.

Info tentang Sastra dari Makassar bisa dibaca di www.sastradarimakassar.org

Blog EntryMar 9, '08 9:17 PM
for everyone
















'Aku Hendak Pindah Rumah' di depan siswa SMU Athirah Makassar.

Blog EntryMar 4, '08 5:47 PM
for everyone

tiga paragraf dari tiga penyair

Cinta betul-betul menjadi hal terutama dalam hidup. Siapa beroleh cinta, dia beroleh kemenangan. Lewat buku puisi ini, M. Aan Mansyur menjelmakan dirinya menjadi pecinta yang sempurna. “Lubang tanam bagi mayatmu,” begitu katanya. Maka sepenggal kisah hidupnya yang tersaji dalam buku puisi ini begitu nikmat untuk diselami.

Dedy Tri Riyadi, orang iklan dan pengelola blog puisi: www.toko-sepatu.blogspot.com


Membaca sajak-sajak M. Aan Mansyur seperti menyimak wajah perempuan yang raut wajahnya suka berubah-ubah. Kadang suram, kadang gelisah. Satu waktu terlihat marah, di waktu lain malah tersenyum ramah. Tapi ada satu hal yang tampak sama: sajak-sajak Aan terasa sederhana, seperti wajah perempuan cantik yang tetap terlihat cantik walau tanpa dandanan meriah. Sedikit tambahan, sajak-sajaknya membuatku banyak mengenang ibu, rumah, kota tempat ibu dan rumah, kematian serta kenangan itu sendiri.

al-Muzzammil, pengelola blog puisi: www.kuasajak.blogspot.com

Saya mungkin terlalu banyak membaca puisi. Karena itulah, saya sering menemukan puisi yang ditulis oleh penyair yang lupa bahwa puisi itu adalah seni. Ya, seni puisi. Memang ada penyair yang sombong yang pernah bilang bahwa puisi itu melampaui seni dan melampaui bahasa, tapi saya tak maulah percaya sama penyair sombong itu. Saya merasa aman dan nyaman pada keyakinan saya – sampai kelak saya murtad dan mendirikan aliran sesat sendiri – bahwa puisi adalah seni, dan seni itu menawarkan keindahan. Ya, karena itulah saya amat menyukai sajak-sajak M Aan Mansyur dalam buku ini.

Hasan Aspahani, penyair, wartawan dan pengelola blog puisi: www.sejuta-puisi.blogspot.com


Blog EntryMar 4, '08 5:40 PM
for everyone

Dinding Cermin, Pintu Putar dan Lelaki yang Menulisinya

Luna Vidya, penyair, pemain teater, pengelola blog http://lunavidya.blogspot.com

Memikirkan Aan hendak pindah rumah, saya menyambanginya dengan semacam truk kosong seperti yang biasa bisa kita sewa untuk keperluan semacam ini. Truk kosong keingintahuan, dan harapan pada "barangkali ada sepotong dua potong perabot yang tidak ingin digunakannya lagi". Perabot terabaikan, yang dapat saya bawa pulang. Kebiasaan saya pula.

Berbekal catatan yang Aan berikan, saya mencari rumah baru itu, pada gambar sebuah rumah dengan halaman, dan beberapa jendela di sisinya. Sebuah rumah di bawah rimbun daun kelapa dan pohonan lain. Dikitari sawah. Langit biru, awan putih. Potret yang indah dari sebuah rumah yang saya bawa dari kampung Lassanglassang di Jeneponto. Kepada dan ke dalam potret itu saya mencari Rumah Lama, Rumah Kenangan . Rumah yang saya kira ingin Aan tinggalkan.

Beberapa waktu menyusuri jalan, saya tidak menemukan rumah seperti di potret itu. Saya menemukan papan petunjuk. Taman Depan. Rumah Lama, Rumah Kenangan. Rumah Hati, Rumah Persembunyian. Rumah Baru, Rumah Kegaduhan. Rumah Waktu, Rumah Perjalanan.Taman Belakang. Dipancang seperti tanda nama jalan. Pada sebentuk pintu. Tapi rumah seperti pada potret yang saya miliki, yang saya jadikan peta menemukan rumah baru Aan, sama sekali tidak saya temukan. Plangplang yang diletakkan begitu rupa sehingga kau merasa dikitari sekaligus mengitari. Perasaan yang sama ketika berada di sepotong kecil wilayah Raja Ampat.

Ke dalam semacam pintu itu, saya perlu melongok. Bukan sekedar melintasinya. Jadi saya pun berhenti, di Pintu hati, Pintu persembunyian. Melongokan kepala lewat pintu itu, yang mestinya terkatup senyap- sebagaimana seharusnya tempat persembunyian- saya mendengar percakapan yang riuh. Pintu itu mengantar saya pada semacam ruang tunggu. Berdinding cermin. Ada sepasang kekasih, ada seorang ibu, ada seorang anak kecil, ada seorang lelaki yang terus mengamati pintu, dan jendela di sekitarnya serta mencatat. Ia membuat catatan pada cermin.

Barangkali tidak banyak orang dalam ruang tunggu itu, pun tidak luas. Tapi cermin pada dinding telah melipatgandakan jumlah orang dan luas ruang itu. Barangkali lelaki itu adalah semuanya, sepasang kekasih, seorang ibu, anak kecil yang ulang berulang mengejar bayang seseorang yang dipanggilnya ayah, ke pintu. Barangkali ia memang tidak mencatatkan peristiwa sepetak sawah hijau, rumah di bawah rimbun pohonan, awan putih, langit biru seperti potretku. Tapi ia telah mencatatkan peristiwa bertanya dan mempertanyakan, milikku. Barangkali semua peristiwa itu, yang saya lihat pada cermin, sebenarnya terjadi di sini, di luar pintu ini. Di dalam diriku. Lelaki dalam ruang itu telah mencatatkannya untukku.

"saat dibaca, kata-kata berkaca pada telaga mata penyair. Ia melihat dirinya berubah menjadi puisi.." (Puisi yang mencintai dirinya sendiri)

Pergi ke plang terdekat, terpikir barangkali saya seharusnya meninggalkan potret rumah di Lassanglassang dalam kepalaku di halaman depan. Potret yang sama sekali asing. Meninggalkan pintu persembunyian itu, di cermin, melintas plang Taman Depan, berhimpit punggung dengan Taman Belakang. Seperti kembar siam, yang tidak identik.

Di Rumah Baru, Rumah Kegaduhan saya berhenti. Pintu menguak yang sepi. Seorang lelaki yang digerakkan gelisah bergerak dari pintu ke jendela. Dari jendela ke jendela. Ada banyak jendela. Berdinding cermin. Di cermin itu, saya membayangkan antrian panjang orang di depan toilet umum, kebelet mau beol. Atau antrian panjang orang lapar di depan pantri sebuah kapal penumpang untuk mendapat jatah makan pagi . Sepotong telur dadar yang terlalu tipis dan terlalu sedikit. Ada jendela yang membentang ke arah kota, ada jendela yang mengirim suara perang. Kemarahan, kobar api. Jendelajendela itu, mengantar rasa lucu yang sengsara.

"Maka begitulah: kita tak bisa bercerai meski kita terus saja berkelahi". Lucu bukan? Pun sengsara.

Kupikir, tentunya ia lelaki yang sama. Lelaki dari rumah yang gaduh itu. Karena lelaki ini pun, mencatat peristiwa mempertanyakan dan bertanya. Mencatatnya pada cermin di dinding. Hanya kali ini antara ia, peristiwa dan pertanyaannya. Juga berusaha menambahkan asumsi disana sini. Begitu sepi ruang itu. Meski pada cermin, siapa pun bisa menangkap kegaduhan gelisah yang ditulis lelaki itu. Ia sampai-sampai berencana pindah rumah.

"Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh!, " katanya.

Pikir saya, "pindah rumah?." Terdengar seperti rencana Aan. Lelaki yang mencatat itu, Aankah dia? sudah sampaikah saya di tujuan? Saya menegok sekeliling, tak ada tembok atau papan yang ada cermin. Cermin yang mengaburkan batas dan kapasitas ruang. Melalui cermin itu saya melihat laut, sungai, pohon, ladang, padang, langit, laut, jalan, langit lagi, bulan, ruang-ruang, atap kota-kota, pohon. Juga bayangku.

Saya lalu membalik kembali catatan tentang petunjuk yang telah diberikan. Saya tahu saya punya pilihan, untuk sampai ke pintu berikut . Menyusur jalan di depan atau menerobos masuk lebih jauh ke balik pintu. Saya hampir yakin, dengan menerobos saya akan sampai di pintu berikut. Pintu mana saja. Bahkan kepada ke dua taman.

Dengan berandai-andai, lelaki yang menulisi dinding itu adalah Aan, saya membuat catatan kasar. Catatan yang saya buat tentang apa yang saya temukan, alami, ketika berada di kesempatan mencoba menemukan rumah baru Aan. Bukan dari kesan terhadap sebuah potret asing. Saya perlu menulisnya sebelum menerobos ruang kegelisahan lelaki yang menulisi cermin itu. Barangkali karena saya takut pada kemungkinan hilang di dalamnya. Di dalam dan di antara cermin.

Pada dugaan bahwa kegelisahan ini sebenarnya adalah jalan buntu, tapi juga sebuah kemungkinan bahwa saya bisa sampai ke mana saja, saya seakan berhadapan dengan gerumbul belukar. Gerumbul belukar di pekarangan rumah masa kecil. Sebuah "hutan" dalam ingatan kanak-kanak saya. Meski untuk ke tiga saudara tuaku, wilayah itu cuma gerumbul semak. Di "hutan" itu, tinggal banyak ular coklat muda tanpa bisa dan buta, biawak, segala macam serangga , pula beberapa jenis burung bersarang disana. Di antara ilalang yang memenuhi lantai "hutan", di antara batang-batang limabelasan pohon lamtoro. Gerombol semak itu adalah undangan kepada petualangan yang terus mengikuti keingintahuan saya, hingga sekarang. Undangan kepada petualangan. Undangan untuk melakukan perjalanan.

Petualangan dan perjalanan. Keduanya berputar pada poros waktu, seperti ketika hendak menyambangi Aan di rumah barunya. Ketika menyusurinya, saya tidak ingin lagi menyelesaikannya. Menyelesaikan perjalanan itu dengan keinginan seorang pemburu. Saya memang, sampai di halaman belakang. Keterangan tentang taman belakang itu, beradu punggung dengan halaman depan. Saya benar, rupanya. Rumah lelaki yang menulisi dinding itu, pintunya menguak ke mana saja, dapat dimasuki dari mana saja. Rumah yang kupikir akan selalu baru, karena ia tumbuh. Saya tinggalkan pintu itu. Pintu tak berbatas.Sebuah pintu putar, yang menguak kemana saja.

Kemana? Seperti kata lelaki ikan di balik pintu persembunyian itu: ada saja pertanyaan ditakdirkan sia-sia. Hanya saya mungkin perlu membuat janji temu dengan Aan, untuk bertanya.

"Lelaki di rumah tumbuh, dengan pintu putar, dan dinding cermin itu, engkaukah An?"


Blog EntryMar 4, '08 5:32 PM
for everyone

Adakah yang Sia-sia?
:empat paragraf untuk antologi Aku Hendak Pindah Rumah

Pakcik Ahmad, Penyair, pengelola blog puisi: http://pakcik-ahmad.net

Ketika berujar, ucapan manusia telah melalui proses yang tidak ringkas. Sebagian berawal dari pantulan cahaya pada benda yang ditangkap mata. Sebagian lainnya adalah cernaan dari pesan-pesan imajinatif dari sebuah tempat yang intagible. Namun kesemuanya tetap melalui sebuah tahapan yang sama, yaitu proses metabolisme pesan-pesan dalam sebuah mesin raksasa, otak.

Puisi-puisi Aan adalah karya dari sebuah kerja serius yang memadukan kedua hal itu, kesan visual dan kesan perasaan. Mudah saja menemukan impresi ini. Cobalah kita pegat kata per kata dalam tubuh salah satu puisinya. Timanglah dan hantarkan kemampuan imajinasi anda ke suatu tempat yang nir-suara. Ketika melakukan hal itu saya sakan menemukan Aan yang sedang mengumpulkan banyak kosa kata dan memilih yang merupakan kaldu dari daftar itu. Ini kerja serius yang tidak akan dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Hasilnya adalah sebuah bangun puisi yang setiap unsur pembentuknya merupakan materi yang mandiri. Hal ini semakin memberikan rasa ingin untuk menyelam ke dalam sungai puisi-puisinya. Mencari sumber pusaran yang membuat permukaan air yang terlihat tenang namun arus di bawahnya ternyata bergerak deras.

Kelebihan Aan yang sedemikian rupa sedikit sulit untuk dilalui oleh mereka yang ingin/akan menulis sebuah puisi. Terlebih lagi di buku ini Aan seperti memiliki gudang dari ribuan imaji dan kearifan ciri tradisi. Saya menyimpulkannya demikian sebab puisi-puisi yang panjang haruslah ditulis dalam komposisi yang cerdik. Pemilihan kata, bentuk pengucapan dan kemampuan menjaga harmoni rasa sang pembaca agar tetap stabil. Namun laku seperti ini dapat membawa seorang penyair seakan meniti sebuah jalan setapak di sisi tebing yang rawan longsor dan jurang yang dalam di sisi sebelahnya. Bahaya yang mengendap-endap seolah bayangan maut bagi si penyair maupun pembacanya.

Dengan berposisi pandangan sebenang lebih tinggi dari pembaca lainnya saya berkesimpulan sebagai berikut : Aan memiliki pencernaan dan kemampuan memakan imajinasinya pada titik yang tidak semua orang (penyair) dapat lakukan. Ketajaman lidahnya mencecap banyak rasa seakan sebanding dengan kejelian dirinya untuk mengatur ke arah mana esensi asupannya hendak dia salurkan. Sehingga sulit dicari ampas kesiasiaan dari unsur-unsur terkecil sekalipun dalam puisinya.


Blog EntryFeb 16, '08 11:05 PM
for everyone



Kumpulan sajak kedua saya sudah terbit!

Aku Hendak Pindah Rumah
karya M. Aan Mansyur

Penerbit: Nala Cipta Litera, Februari 2008

182 halaman: 13 x 19 cm
ISBN 978-602-8003-06-3

Penyunting dan Pengantar: Hasan Aspahani

Harga: 30.000,-

Bagi yang berminat memilikinya silakan menghubungi:
luarkurung@gmail.com atau 081342478649

Blog EntryFeb 14, '08 9:59 PM
for everyone
Berikut Catatan dari Alumni Youth Camp 2008, FENNY KRISTANTI yang membagikan pengalamannya mengikuti Program Youth Camp. Artikel ini dimuat di media online Panyingkul! pada hari Senin 11 Februari 2008. Bisa dilihat pula di sini.
-------------------------------------------------------------------------------------

Citizen reporter Fenny Kristanti, siswi SMAN 1 Makassar yang mengikuti program Youth Camp 2008 yang diselenggarakan Rumah Kaum Muda, Makassar membagi pengalamannya mengenai pendidikan alternatif yang membuka wawasan dan kesadarannya sebagai seorang pelajar. Salah satu yang dipelajarinya selama sebelas hari tinggal di desa, bahwa kegiatan belajar berbasis kerjasama jauh lebih efektif dan menumbuhkan kepercayaan diri, dibandingkan metode pengajaran yang berbasis kompetisi semata. (p!)





Wow! Itulah kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaan saya. Bersama 19 siswa-siswi SMA dari berbagai sekolah se-Sulsel, saya mengikuti Youth Camp, program tahunan Rumah Kamu (Rumah Kaum Muda), berupa pendidikan alternatif dalam bentuk penelitian lapangan. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti program penelitian untuk remaja yang dilaksanakan di luar daerah.

Program ini berlangsung dari tanggal 5-16 Januari 2008 lalu. Youth Camp tahun ini mengambil lokasi di Bulukumba. Tepatnya di Dusun Bogo dan Tatturaeng, Kelurahan Ekatiro, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Untuk mencapai tempat ini, kami menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Makassar. Daerah ini berada di pesisir pantai, namun mata pencaharian penduduknya lebih dominan bertani dan berkebun. Selama 8 hari kami tinggal di dusun tersebut bersama para penduduk yang menjadi orang tua angkat.

Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok penelitian sesuai minat masing-masing dan didampingi oleh dua orang fasilitator. Bidang-bidang penelitian untuk Youth Camp 2008 ini adalah sejarah lokal, mata pencaharian, kesehatan lingkungan, pendidikan, dan pemanfaatan SDA (sumber daya alam). Saya sendiri adalah salah satu anggota dari kelompok penelitian bidang pendidikan. Saya dan ketiga orang teman saya; Andi Nurfadillah (SMAN 3 Watan Soppeng), Samriana dan Aksan Surya Wijaya (SMAN 5 Pare-Pare) kemudian mendiskusikan hal apa yang menarik perhatian kami sehingga memilih masuk dalam penelitian bidang pendidikan. Dan pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan pusat perhatian kami adalah “Apakah yang diajarkan di sekolah dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh sekolah tersebut memiliki benang merah dengan cita-cita siswa itu sendiri?” Untuk menjawab pertanyaan itu maka dibentuklah kelompok penelitian bidang pendidikan.

Sungguh pengalaman yang sangat berkesan bagi saya saat mewawancarai para siswa siswi SDN 138 Basokeng, SMPN 1 Bontotiro, MTsN 1 Bontotiro, dan SMAN 1 Bontotiro. Mewawancarai pelajar berbagai usia! Ini belum pernah terjadi dalam hidup saya. Di sekolah saya di Makassar, saya memang pernah mewawancarai anak SMA. Tapi saya sama sekali belum pernah mewawancarai anak SD. Kata-kata yang kami gunakan haruslah sesederhana mungkin agar mereka dapat mengerti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya juga harus menerapkan model SKSD (sok kenal, sok dekat) dengan anak-anak SD tersebut. Sama halnya dalam mewawancarai siswa dan siswi SMP, MTs dan SMA.

Saat saya dan ketiga orang teman saya datang ke sekolah-sekolah tersebut, kami bagaikan artis yang dikerumuni penggemar. Setiap kami berjalan, rasa-rasanya kami selalu menjadi pusat perhatian. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Mungkin karena sudah ada pengumuman dari pak Camat di sana bahwa kami akan datang ke sekolah-sekolah di desa itu. Atau mungkin karena ada adik angkat kami yang bersekolah di sekolah itu dan menceritakan bahwa kami bukanlah orang dari daerah tersebut.

Dari hasil wawancara, kami mendapatkan banyak informasi yang cukup membuat saya dan teman-teman kaget. Di antaranya mengenai upaya pemerintah setempat untuk mengatasi maraknya penggunaan ponsel. Pak Camat setempat ternyata turun langsung ke sekolah-sekolah menyampaikan sebuah aturan yang melarang siswa-siswi di kecamatan itu membawa ponsel ke sekolah! Banyak hal lainnya yang kami dapatkan dari hasil mewawancarai para siswa itu. Yang jelas, dari hasil obrolan itu tampak bahwa meski mereka tinggal di desa, tapi soal cita-cita dan berbagai informasi gaya hidup, misalnya, mereka tidak kalah dengan pelajar di kota besar.

Apa yang saya dapatkan dari Youth Camp? Saya merasakan suasana belajar yang demikian bebas. Selama 11 hari saya menjadi siswa SMA yang tidak terlalu mementingkan angka-angka yang harus diraih di sekolah formal. Saya belajar mengenal lingkungan, mengasas kemampuanmenjalin hubungan pertemanan, menumbuhkan rasa peduli dan rasa ingin tahu pada lingkungan.

Setelah mengikuti Youth Camp 2008, pandangan saya tentang desa berubah. Tadinya saya berpikir bahwa orang desa itu kotor, jorok, tidak berpendidikan, miskin, dan orang-orangnya seram. Ternyata saya salah! Mereka ramah, bersih dan juga punya rasa ingin tahu tinggi terhadap kami yang pendatang. Tentu yang paling menyenangkan, karena saya memiliki teman dari berbagai daerah. Saya juga senang dengan tradisi membuat jurnal yang diperkenalkan selama program ini.

Saya belajar untuk mendengar orang lain, bukan hanya mau didengar saja, menghargai pendapat orang lain, dan saya juga belajar untuk bersosialisasi dan mandiri di lingkungan dan orang-orang yang baru. Dan yang paling saya suka dalam Youth Camp ini adalah “Kerja sama ,Yes-Kompetisi No!” yang merupakan motto dari Youth Camp ini. Tidak ada perbedaan antara ketua OSIS atau siswa yang selalu mendapat ranking, dengan siswa yang biasa-biasa saja. Pokoknya semua sama, semua harus percaya diri. Terima kasih Youth Camp, Terima kasih Rumah Kamu!

O, ya saat saya kembali ke sekolah, salah seorang guru sempat salah paham tentang Youth Camp yang saya ikuti. Guru itu berpikir saya mengikuti perkemahan salah satu aliran agama ajaran sesat dan ia sungguh mengkhawatirkan keselamatan saya. Ah, mungkin bapak dan ibu guru di sekolah saya perlu diikutkan Youth Camp berikutnya untuk melihat betapa indahnya pendidikan alternatif yang baru saja saya ikuti.(p!)

Blog EntryFeb 12, '08 4:25 AM
for everyone

Pengumuman Pemenang Lomba Puisi Cinta Tabloid Nyata

PEMENANG UTAMA

(masing-masing mendapatkan hadiah Rp 4 juta, 3,5 juta, 3 juta, 2,5 juta, 2 juta, 1,5 juta)

1.
Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.
2. Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.
3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.
4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.
5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.
6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.

PERAIH KARYA TERPUJI

(masing-masing Rp 700 ribu)

1.
Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.
2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.
3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.
4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.
5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.
6. Ibu, Sri Handayaningsih, Muntilan-Malang.
7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.
8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.
9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.
10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.
11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.
12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.
13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.
14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.
15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.
16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.
17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.
18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.
19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.
20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.
21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.
22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.

*Karya para pemenang akan dibukukan dalam antologi puisi cinta Nyata.

DEWAN JURI: | Raudal Tanjung Banua | Mardi Luhung | Nenden Lilis


Blog EntryFeb 7, '08 11:04 PM
for everyone
100 PUISI INDONESIA TERBAIK 2008
  1. A. Muttaqin, “Munajat Apel Merah” - Koran Tempo, 10 Juni 2007
  2. Aan Mansyur, “Kata Peramal” - Koran Tempo, 7 Oktober 2007
  3. Aan Mansyur, “Tiga Catatan Terakhir” - Kompas, 21 Oktober 2007
  4. Acep Zamzam Noor, “Lembah Anai” - Koran Tempo, 25 Februari 2007
  5. Acep Zamzam Noor, “Rambut Ikal” - Kompas, 27 Mei 2007
  6. Acep Zamzam Noor, “Sajak Nakal” - Koran Tempo, 25 Februari 2007
  7. Afrizal Malna, “Bush dan Rambut yang Tak Bisa Disisir” - Kompas, 26 November 2006
  8. Afrizal Malna, “Lemari Tahun 1957″ - Kompas, 7 Oktober 2007
  9. Afrizal Malna, “Satu Meter Jalan ke Kiri” - Kompas, 7 Oktober 2007
  10. Ahda Imran, “Di Delta Sungai” - Kompas, 21 Januari 2007
  11. Ahda Imran, “Perempuan yang Menyulam di Tepi Sungai” - Kompas, 21 Januari 2007
  12. Alois A. Nugroho, “Pedati Kayu dan Hutan Jati” - Kompas, 22 April 2007
  13. Alois A. Nugroho, “Perahu dan Pagi” - Kompas, 22 April 2007
  14. Ari Pahala Hutabarat, “Kado Ulang Tahun” - Lampung Post, 14 Januari 2007
  15. Arif B. Prasetyo, “Gunung Sanbang” - Kompas, 3 Desember 2006
  16. Arif B. Prasetyo, “Madiun” -Kompas, 3 Desember 2006
  17. Dahta Gautama, “Khimaci di Showa Kinen” - Lampung Post, 29 Juli 2007
  18. Dina Oktaviani, “Hantu Tanjung Karang” - Kompas, 17 Juni 2007
  19. Dina Oktaviani, “Lanskap Dalam” - Media Indonesia, 25 Maret 2007
  20. Eka Pranita Dewi, “Kakek Tak Jadi Datang” - Lampung Post, 11 Maret 2007
  21. Eka Pranita Dewi, “Malam di Kartika Plaza” - Bali Post, 17 Juni 1007
  22. Eka Pranita Dewi, “Perempuan Pembuat Gerabah” - Bali Post, 28 Januari 2007
  23. Faisal Kamandobat, “Aku Mencintai Kalian” - Media Indonesia, 11 Maret 2007
  24. Fina Sato, “Kabarkan Padaku tentang Laut” - Pikiran Rakyat, 5 Mei 2007
  25. Frans Najira, “Surat yang Tersesat” - Koran Tempo, 7 Januari 2007
  26. Goenawan Mohamad, “Ia Menangis” - Kompas, 23 September 2007
  27. Goenawan Mohamad, “Rozinante” - Kompas, 23 September 2007
  28. Goenawan Mohamad, “Tiga Puluh Menit Sebelum Syaid Hamid” - Kompas, 23 September 2007
  29. Gunawan Maryanto, “Jineman Uler Kambang” - Koran Tempo, 5 November 2006
  30. Gunawan Maryanto, “Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” - Kompas, 3 Juni 2007
  31. Gunawan Maryanto, “Sebuah Pertunjukan Tentang Hujan” - Suara Merdeka, 15 April 2007
  32. Gus Tf., “Akar Berpilin 1″ - Kompas, 4 Maret 2007
  33. Gus Tf., “Akar Berpilin 5″ - Kompas, 4 Maret 2007
  34. Hasan Aspahani, “Di Antara Sampiran dan Isi Pantun Tua” - Kompas, 16 september 2007
  35. Hasan Aspahani, “Orgasmaya” - Kompas, 8 April 2007
  36. Heru Mugiarso, “Sola Dei” - Suara Merdeka, 19 Agustus 2007
  37. Inggit Putria Marga, “Bulu Ayam” - Lampung Post, 11 Februari 2007
  38. Inggit Putria Marga, “Di Pintu Gerbang” - Republika, 11 Maret 2007
  39. Inggit Putria Marga, “Suara Usai Isya” - Koran Tempo, 24 Juni 2007
  40. Ira Puspitaningsih, NKM, “Dalam Dongeng Tidurmu” - Bali Post, 22 April 2007
  41. Ira Puspitaningsih, NKM, “Di Hilir, Doaku Menjelma Gadis Mimpi” - Bali Post, 22 April 2007
  42. Ira Puspitaningsih, NKM, “Sari Daging, Yajna Sepasang Nelayan” - Bali Post, 22 April 2007
  43. Iswadi Pratama, “Fragmen Pertempuran Menjelang Berangkat” - Kompas, 18 Maret 2007
  44. Iswadi Pratama, “Pertempuran” - Kompas, 18 Maret 2007
  45. Iyut Fitra, “Surat Untuk Amelia” - Lampung Post, 25 Maret 2007
  46. Jimmy Maruli Alfian, “Kidung Pohon” - Lampung Post, 28 Januari 2007
  47. Jimmy Maruli Alfian, “Membuat Panekuk” - Koran Tempo, 4 Februari 2007
  48. Joko Pinurbo, “Pemulung Kecil” - Kompas, 17 Desember 2007
  49. Joko Pinurbo, “Sehabis Sakit” - Kompas, 17 Desember 2007
  50. Joko Pinurbo, “Terompet Tahun Baru” - Suara Merdeka, 7 Januari 2007
  51. Kurnia Effendi, “Tentang Dirimu” - Media Indonesia, 3 Juni 2007
  52. Laela Awali, “Cerita tentang Nenek dan Bocah Kecil”
  53. Leo Kleden, “Bunga Kecil dari Genewa” - Kompas, 12 Agustus 2007
  54. Leo Kleden, “Musim Gugur” - Kompas, 12 Agustus 2007
  55. Lupita Lukman, “Bunga Padi dan Alang-Alang” - Media Indonesia, 9 September 2007
  56. Lupita Lukman, “Gubuk-Gubuk Gipsi” - Media Indonesia, 15 April 2007
  57. Lupita Lukman, “Tangga Menuju Langit” - Kompas, 29 Juli 2007
  58. M. Fadjroel Rachman, “Di Pulau Laut, Bulan Menari” - Media Indonesia, 28 Januari 2007
  59. Made Adnyana Ole, “Seorang Penyair di Desa Tembok” - Bali Post, 18 Februari 2007
  60. Mardi Luhung, “Hantu Paus” - Koran Tempo, 8 April 2007
  61. Mardi Luhung, “Hujan” - Kompas, 28 Januari 2007
  62. Marhalim Zaini, “Jangan Sebat Kami dengan Rotanmu, Jangan Kutuk Kami Jadi Melayu” - Kompas, 24 Juni 2007
  63. Mashuri, “Tukang Cukur” - Kompas, 25 Februari 2007
  64. Mashuri, “Wajah” - Media Indonesia, 29 April 2007
  65. Merisa Martiningsih, NMI, “Dua Tukang Pos” - Bali Post, 5 Agustus 2007
  66. Micky Hidayat, “Telah Kuhapus Kata-Kata” - Republika, 10 Juni 2007
  67. Mochtar Pabottinggi, “Konsierto di Kyoto” - Kompas, 28 Oktober 2007
  68. Mochtar Pabottinggi, “Kuil Ise, Prosesi” - Kompas, 28 Oktober 2007
  69. Muhammad Subarkah, “Ain Helwa” - Republika, 19 Agustus 2007
  70. Muhammad Subarkah, “Lhok Nga, Ketika Luka Lupa Menutup Mulutnya” - Republika, 19 Agustus 2007
  71. Muhammad Subarkah, “Nyanyian Kekasih” - Republika, 19 Agustus 2007
  72. Ni Luh Putu Mahaputri, “Menyunting Bulan Sabit” - Bali Post, 30 September 2007
  73. Nirwan Dewanto, “Apel” - Kompas, 5 Agustus 2007
  74. Nirwan Dewanto, “Pengantin Remaja” - Kompas, 5 Agustus 2007
  75. Nirwan Dewanto, “Tiga Biola Juan Gris” - Kompas, 5 Agustus 2007
  76. Ook Nugroho, “Ode Bagi Pisang” - Koran Tempo, 18 Maret 2007
  77. Ook Nugroho, “Pasar Kembang” - Kompas, 17 Juni 2007
  78. Oyos Suroso, “Dapur Ibu” - Media Indonesia, 19 November 2006
  79. Reina Cailisia, “Sanur” - Bali Post, 21 Januari 2007
  80. Es. Wibowo, “Suluk Borobudur” - Suara Merdeka, 28 April 2007
  81. Sapardi Djoko Damono, “Kolam Pekarangan” - Kompas, 10 Juni 2007
  82. Sapardi Djoko Damono, “Sonet 1 ” - Kompas, 10 Juni 2007
  83. Sapardi Djoko Damono, “Sonet 4 ” - Kompas, 10 Juni 2007
  84. Saras Dewi, “Mahkota Duri” - Media Indonesia, 27 Mei 2007
  85. Saraswati Laksmi, NKM, “Tiga Tangkai Bunga” - Bali Post, 29 Juli 2007
  86. Sindu Putra, “Nyoman, Seekor Burung Terbakar Dalam Lukisanmu” - Bali Post, 21 Januari 2007
  87. Sindu Putra, “Pasar Pagi Denpasar” - Bali Post, 25 Februari 2007
  88. Sitok Srengenge, “Lembah Lantana” - Kompas, 26 Agustus 2007
  89. Sitok Srengenge, “Lukisan Perempuan” - Kompas, 26 Agustus 2007
  90. Sitok Srengenge, “Ruang Singgah” - Kompas, 26 Agustus 2007
  91. Sunlie Thomas Alexander, “Laskap Laki-Laki” - Koran Tempo, 28 Januari 2007
  92. Sunlie Thomas Alexander, “Nightmare” - Koran Tempo, 28 Januari 2007
  93. Sunlie Thomas Alexander, “Potret Tua” - Koran Tempo, 28 Januari 2007
  94. Triyanto Triwikromo, “Kota Senja” - Kompas, 22 April
  95. Triyanto Triwikromo, “Obituari Syeh Siti” - Kompas, 22 April
  96. Wendoko, “Empat Sajak Untuk KH” - Kompas, 20 Mei 2007
  97. Wendoko, “Les Miston” - Media Indonesia, 24 Juni 2007
  98. Wendoko, “Life Lines” - Kompas, 20 Mei 2007
  99. Zaim Rofiqi, “Ibu” - Media Indonesia, 15 Juli 2007
  100. Zen Hae, “Seseorang akan Memanggilmu dari Kobaran Api” - Kompas, 14 Januari 2007

Informasi lengkap tentang Anugerah Pena Kencana bisa dibaca di sini.

Blog EntryFeb 7, '08 10:07 AM
for everyone





Akan beredar bulan ini!

AKU HENDAK PINDAH RUMAH
99 + 2 sajak M. Aan Mansyur

Semacam Denah Buku Ini


Pengantar 1.065 Kata Hasan Aspahani


Enam Petunjuk (yang Harus Anda Abaikan)

Bagaimana Menikmati Sajak M Aan Mansyur


Taman Depan


Engkau dan Sajakku


Pintu 1. Rumah Lama, Rumah Kenangan


Dunia yang Lengang | Malam Lebaran, Tebaran Hujan, Debaran Jantung | Hujan Pagi | Seusai Membaca Neruda, Tiga Melankolia | Di Dadanya, Kamar Tidurku | Sepasang Pohon Gerbang | Beberapa Hari Setelah Kau Pergi | Pada Sebuah Tengah Malam | Aku dan Sepasang Mata | Safinah |Sebelum Tidur | Metamorfosa Bibirmu dan Telingaku | Ingatan, Matamu dan Waktu | Wajahku adalah Museum | Puluhan Tahun Kemudian | Empat Soneta, Satu Perempuan | Sebuah Percakapan | Seusai Gerhana Bulan | Walau Waktu Telah Jauh, Juga Kau | Sajak di Saat Hujan | Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia | Di Runcing Jejarum Jam


Pintu 2. Rumah Hati, Rumah Persembunyian


Mata Ibu | Sajak buat Istri yang Buta dari Suami yang Tuli | Tentang Senyuman Ibu | Puisi tentang Doa yang Terbata-bata | Gambar Mirip Ibu | Dalam Puisi Ini | Riwayat Dinding dan Dingin | Sebuah Rumah Terkunci | Lelaki Ikan | Mencari Tubuh Ayah | Seorang Lain | Di Rahim Tanah | Doa | Nyanyian | Pulang Aku ke Rumahmu | Tiga Catatan Akhir | Meriang | Ada Empat SMS Ibu Hari Ini | Sesudah Bayanganmu | Di Hadapan Mata Jendela | Sungai Susu | Kepada Seorang Perempuan di Kuala | Aku Ingin Kau Sedang | Puisi yang Mencintai Dirinya Sendiri | Puisi yang Bunuh Diri | Kepada Ibunya, Batu Mengirim Asap | Petir | Di Beranda | Sebuah Pohon | Pulau Rahasia | Sebuah Kisah Cinta | Pelukan | Sahabat-sahabat Ibu


Pintu 3. Rumah Baru, Rumah Kegaduhan


Sebuah Sajak yang Tak Indah | Doa Api yang Membakar Hutan | Pagi Ini | Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar | Dalam Sajak Ini Ada Kota Besar Terbakar | Mengejar Kaki-Kaki Kota | Kita Saling Mencintai Seperti Dua Kutipan Lucu | Telur Dadar | Denting Sendok dan Garpu | Interogasi | Jauh Waktu | Menelponlah, Kekasih! | Kata Peramal | Inilah Sebabnya | Pohon-pohon Tak Berdaun | Lukisan Bayangan | Aku Hendak Pindah Rumah | Mari Bukalah Rahasia | Di Sebuah Kafe, di depan Fort Rotterdam | Dunia dalam Gelas


Pintu 4. Rumah Waktu, Rumah Perjalanan


Senja dan Lain-lain | Kereta Api | 14 Januari | Di Gunung Pasir | Baju Penglaris | Minggu Kedua Oktober 2006 | Minggu Pertama Oktober 2006 | Minggu Terakhir September 2006 | Kota dalam Catatan Seorang Perantau | Peti Mati | Pada Sebuah Malam Engkau Berjalan | Sejarah Mata, Sejarah Waktu | Sejarah Mata, Sejarah Jarak | Sejarah Mata, Sejarah Kata | Sejarah Mata, Sejarah Arah | Sesaat Setelah Kapal Bersandar | Surat Cinta Buat Sebuah Kota | Kartu Pos | Teluk Puntondo, Suatu Senja |Tiga Ode Pendek | Rumah Terlantar | Magrib | Menyusur Jalan Menjelang Pagi | April


Taman Belakang


Lubang Untukmu


Tentang Penyair


Catatan Kecil dari Penyair



Blog EntryFeb 7, '08 3:36 AM
for everyone

RUMAH DARI JANUARI KE JANUARI


1

Kita tinggal di sini sebab udara dan langit
amat bersih. Rumput-rumput menjemput
setiap pejalan kaki yang hendak masuk
ke halaman dan rumah dengan ramah.

Di jalan-jalan yang menjauh dari pagar
tak ada
seseorang berjalan atau kesasar.
Di
daerah ini, tak ada orang mati atau terjaga
di tengah malam
, yang membuat para tetangga
harus merasa bersalah atau malah terganggu.

Mobil-mobil hanya duduk membuka mata
mengamati tubuh jalan-jalan di depannya.
Lelampu bangun sepanjang malam dan siang
persis pegawai yang senang membangkang.


2

Seorang gadis tetangga sedang berjuang
menyingkirkan nama aslinya yang panjang,
yang senang menganggu wajah manisnya
seperti helai rerambut yang berjejatuhan.

Dia tersenyum padaku, dan kau pikir
airmata akan mulai lahir di sudut bibirmu.
Sebab terus begitulah nampaknya selalu,
kelembutan ibu kandung badai-topan.
Perlahan-lahan kau lihat datang dari kejauhan.
Kau pikir bisa menghindar, namun tiba-tiba saja
menyerang dari dalam dadamu sendiri. Kau heran.

Dia mirip saudara perempuanmu yang menghilang.
Tatapannya tenang berkata: aku onggokan kotoran.
Tetapi kau masih yakin bisa mencuciku hingga bersih.


3

Selusin kartu kredit sama saja, katamu.
Semuanya beraroma sabun yang aneh.
Memenuhi kamar, tubuhmu dan hidungku
selepas mandi subuh berlama-lama.

Kau campakkan semuanya ke atas meja kayu,
seolah sama sekali tidak peduli pada peluhku.
Anak-anak mendengar, dan kita tidak boleh

menyesal karena mereka lahir punya telinga.
Mereka masuk dari halaman seperti lelehan
madu, mereka tersenyum. Namun mata-mata
mereka mengabarkan kelaparan para pengungsi.

Kita berhenti sejenak sambil sama-sama
melirik jendela kaca yang di dalamnya
ada pohon-pohon sedang berbunga.
Merayakan musim semi, musim semai.


4

Dengan seluruh yang kita punya
ada semacam bakat untuk tertawa.
Tertawa kepada apapun, apa saja.
Kepada peristiwa yang telah lewat
atau kesedihan yang sangat gawat.

Juga kita tak melupakan siapapun.
Kau mendengar ibumu di telepon.
Dia sedang mengenang sebuah pepatah
tentang kepolosan seorang anak kecil.

Aku membaca surat-surat ayahku.
Dia mengulang-ngulang petuah usang
tentang kehidupan dan juga kematian
yang katanya kadang datang bersama.


5

Setiap hari Minggu kita selalu punya pesta.
Anak-anak mengungsi ke dada pengasuh.
Wajah mereka terhapus seharian penuh.

Di luar rumah, air hujan bercipratan
menciptakan kolam di sore hari.
Perlahan jadi tinggi lalu meluap ke tangga
atau ke sepasang matamu yang lelah.

Seorang tetangga mengisi lemari pendingin

dengan sayur yang kurang vitamin dan zat besinya.
Seorang mengelap kaca dan mengharumkan seprei.

Seorang bercanda dengan burung peliharaan.
Sementara kau sedang bersiap-siap ke pesta
dan mengajak aku kembali ke masa-masa remaja.

6

Untuk bercanda kita bicara saja tentang kau.
Apapun, melulu lebih bagus bicara tentang kau.
Begitulah kesepakatannya, begitulah aturannya.
Agar anak-anak tak terlalu sering menguping
sambil mengigit bibir dan tangan di balik pintu.

Ini akan jadi malam yang panjang, katamu.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?
Anak-anak sudah tidur dan bermain-main
dengan mimpi yang selalu susah kita pahami.

Malam akan memanjang melampaui siang.
Tidak akan ada pagi selama dua
atau tiga hari.
Dan tawa
kita tidak akan berhenti berderai.
Bahkan pepohonan di halaman menjulurkan
daunnya lewat lubang-lubang atap, mengintip
kita yang sedang menyembunyikan ratap.


7

Mengapa kau menerima lamaranku? Karena.
Karena. Kau paling baik bagiku, katamu gagap.
Namun kau bilang kau sedang gugup.

Mungkin kau tak sanggup.

Di dapur, di atas kloset, di kamar
di balik pintu, di toilet, lembar-lembar
kalender sedang melahap usia kita.

Mengapa kalian ikut mendengar?
Begitu caramu bertanya pada kalender.
Bahkan aku susah menemukan jawaban
kecuali sebuah elusan di urai-rambutmu.


8

Tombak siapa bersandar di kamar tidur?
Apa gerangan yang dibisikkan gerendel

kepada lubang pintu yang tak punya kunci?

Dan tas-tas, pintu-pintu, mulut-mulut.
Semuanya kelaparan minta disuap.

Ketika kau sembunyi di dalam selimut,
senjata di balik bantal geli dan tersenyum
memperlihatkan gigi-giginya yang tajam.


9

Malam ini tiba-tiba saja anak-anak
terjaga dari mimpi yang
seragam.
Tentang daun-daun yang terbakar.

Tentang sepasang gadis dalam gelap
yang mengetahui tidak ada musang
atau lelaki jahat di dalam rumah kita.

Hanya alat-alat elektronika yang sakit,
matanya samar dan suaranya kasar,

juga televisi bicara kepada dirinya sendiri,
dan piring-piring kotor menangis minta dibilas.

Kau dan aku hanya patung yang saling menangisi,
saling mengisi tubuh dengan kesedihan.

10

Kau akan pergi jauh. Rumah sudah terlalu hangat

buat tubuhmu yang selalu ingin disepuh angin.
Kau putuskan semua kabel sambungan telepon.

Tulang-tulang, kaleng-kaleng, sepatu kulit,
dan bedak berdebu di lantai. Kau bakar tissue
Toilet yang masih bergulung-gulung di gudang.

Kau masukkan kembali botol-botol
ke dalam kulkas yang berkarat pintunya.

Di punggung tangga ada musim hujan gelas.
Dan kau meminta: tunda dulu minum susu!


11

Kau boleh pergi sekarang, kata lemari.
Aku tak ingin bicara, kata jam dinding.

Tasmu hitam dan menunggu di atas kursi.
Bagaimana mungkin kau tinggalkan rumah?

Meja dapur hanya menatap langit,

tak mampu mengucap kata secakap.
Namun kau tetap melewati ruang tamu,
berjalan, keluar dan berdiri di depan pintu.

Jalan-jalan, tak ada seorang pun di atasnya.
Bahkan anjing yang dilepas rantainya.

Mobil masih saja terbuka matanya.

Tapi rumput-rumput mulai menangis.

Kau berlari menubruk tubuhku kemudian
memukul, bertanya, menangis sambil memeluk
bahuku yang sebagian besar telah ditelan kalender.


12

Kita akan tetap tinggal di sini, katamu
lalu terdiam dan menatap foto di dinding
yang rindu ada tungku pemanas di bawahnya.

Mari ke kamar tidur, kita harus belajar
memahami mimpi anak-anak yang rumit
dan mulai menyingkirkan masa remaja
ke gudang tempat gulungan-gulungan tissue

sebelum terbakar dan menyisakan abu.

Di luar jendela, udara dan langit sangat bersih.
Kini kita tak lagi punya alasan untuk bersedih.

Kecuali kalender yang terus berganti dari Januari
ke Januari lalu kembali lagi ke Januari yang baru.

Dan rumah, tempat aku-kau-anak-anak tinggal
dan menjadi renta, berada di situ, di dalamnya.


Blog EntryFeb 4, '08 8:36 AM
for everyone
Seperti Matamu

Hingga kau pergi, aku tak mampu menulis satu puisi
yang menyerupai keindahan mata. Seperti matamu.

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana menciptakan mata.

Setelah kau pergi, aku ingin menemukan rahasia kata
kemudian mulai belajar menulis puisi tentang air mata.


NoteGuestbook
   
hajivw wrote on Jan 18, '10
menarik .........
alia wrote on Dec 24, '08
Halo salam kenal :)
Surat cintanya dah menyebar luas.. semoga 'cinta'-nya bisa didengarkan oleh mereka yang masih punya hati :)

Btw, ini mp-nya shireen... http://shireensungkar.multiply.com/
inayahmangkulla wrote on Jul 16, '08
ternyata ada MPnya juga k...

saya baru tau... hehehehe
pikanisa wrote on May 17, '08
Bang... mampir saya bang...

Kapan yak visit Surabaya lagi? Biar bersepeda motor bareng2 dengan gheta lagi.

Sayang, deh kemaren tak sempat lama saya bertatapan alam pembelajaran dengan abang.

Kali lain datang lagi ke Sby yak..
bayu82 wrote on May 17, '08
assalamualaikuuum saudaraku ^_^ apa kabar?
pecandubuku wrote on Mar 30, '08
terima kasih. salam kenal.
shuhmy wrote on Mar 30, '08
dirimu pandai merangkai huruf
dijemari suka dan duka gugup
tersipu
faqirullah wrote on Oct 15, '07
sy turut menyebarkan dirimu..
biar dunia semakin mengenal siapa kamu...

*** teman lamamu di PK 6 *** :D
faqirullah wrote on Oct 15, '07
aan...banyak yang senang membaca tulisanmu...

:D